Pages

Makrab Bohlam 2011 @Kaliurang

Sehari semalam kumpul kebo bersama seluruh Bohlamers

Pinasthika 2010

Borong 6 piala di panggung Pinasthika 2010

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, January 27, 2008

Review Iklan 2

"SIMPLY NUTRILITE: Eating Better Made Simple"
Reviewer: Acynthia Putri


*klik gambar untuk melihat dalam ukuran yang lebih besar*

Brand/Produk : SIMPLY NUTRILITE/Makanan, minuman dan suplemen kesehatan
Agency : Brooklyn Brothers, New York
Media : Print
Pesan : "Eating Better Made Simple"
-----------------------------------

Sebelumnya, mari bicara sedikit tentang Brooklyn Brothers, biro iklan di New York yang mendeklarasikan diri sebagai "creative enterprise" alih-alih 'advertising agency'. Karya-karya biro iklan ini (terutama print) cenderung simplistis dengan konsep dan copywriting yang humoris khas barat. Meskipun demikian, humor yang mereka gunakan juga tetap menyesuaikan dengan target dari produk yang diiklankan. Print ad SIMPLY NUTRILITE ini salah satunya. Mungkin bisa dikatakan iklan ini dapat menggambarkan karakteristik Brooklyn Brothers yang menganggap semua clientnya adalah 'client favorit'.
(find your brother at Brooklyn Brothers' website here.)

Menurut saya, pesan utama yang ingin disampaikan sesuai dengan tagline produk: "Eating Better Made Simple". Secara umum, iklan ini ingin mengatakan bahwa dengan mengkonsumsi makanan sehat bernama SIMPLY NUTRILITE, artinya pola makan kita membaik. Jika pola makanan kita membaik, badan kita jadi sehat. Kalau badan kita sehat, pikiran juga segar. Kalau pikiran segar, segala yang kita kerjakan akan menjadi mudah!

Yang membuat saya salut dan nyaris percaya pada iklan ini adalah cara pengkomunikasiannya yang kembali ke karakter produk: SIMPLE. Dengan menggunakan pendekatan hiperbolis khas iklan, mereka menggambarkan suatu tindakan yang sebetulnya sangat mustahil (paling tidak katakanlah rumit)--menjadi simple. Tentu saja ini juga sangat didukung oleh visual art yang amat simple dan jenis font yang dinamis dan tidak kaku.

Iklan ini menggambarkan langkah-langkah pembedahan otak dalam 3 tahap. Tahap 1, orang itu bodoh karena mengatakan 1+1=3. Tahap dua, otaknya dibedah. Tahap ketiga, orang itu sudah tahu bahwa 1+1=2. Lalu headline-nya mengatakan: "Brain Surgery Made Simple".

Sebetulnya, kalau saya, dari penggambaran ini kita bisa memunculkan empat interpretasi:
1. "Jika pikiran Anda tidak cerah karena badan tidak sehat, konsumsilah SIMPLY NUTRILITE. Otak Anda serasa diperbaharui!"
2. "Jika Anda mengkonsumsi SIMPLY NUTRILITE, hal-hal rumit menjadi mudah!" (buktinya operasi otak aja selesai dalam 3 langkah)
3. "Jika Anda mengkonsumsi SIMPLY NUTRILITE, Anda tidak perlu jauh-jauh memikirkan penyelesaian yang sulit (sampai bedah otak segala). SIMPLY NUTRILITE-lah solusi yang paling mudah." atau
4. 'Penggambaran tiga langkah operasi otak yg simple' ini semata-mata hanya sebagai simbolisasi produk sendiri; yaitu produk kesehatan yang bentuknya hanya sesimpel bars, sangat praktis dan mudah dikonsumsi.

Mungkin ini terbilang resiko iklan dengan visualisasi adegan yang simple dengan copy atau headline simple pula. Maknanya jadi ambigu. Tapi dalam kasus ini, keempat interpretasi yang muncul semuanya tetap menonjolkan keunggulan yang ditawarkan produk, dan tetap berkaitan pula. Interpretasi yang saya kemukakan di atas bisa jadi betul semua, betul salah satu saja atau bahkan salah semua (jika dikoreksi oleh creator iklannya). Tapi justru pemaknaan ganda inilah yang paling mungkin terjadi saat iklan ini dilihat oleh berbagai macam orang yang isi kepalanya berlainan.
Teman-teman yang membaca review saya ini juga tidak harus 100% setuju lho.

Kesimpulan
Satu hal yang perlu kita cermati adalah bahwa iklan ini telah mencoba (dan menurut saya berhasil) menyampaikan suatu produk yang biasanya kelihatan rumit menjadi simple. Biasanya iklan produk makanan kesehatan, suplemen, dsb menggunakan pendekatan kesehatan dan bahkan medis. Tapi iklan ini menawarkan komunikasi yang segar dan out of the box, sehingga "suplemen & makanan kesehatan" sudah bukan lagi hal yang 'seram', berat dan merepotkan. Masyarakat malah jadi merasa dekat dengan budaya mengkonsumsi makanan sehat karena produk ini praktis seperti makan snack biasa dan tentunya karena diiklankan dengan bahasa yang 'segar' pula.

Akhir kata... jagalah pola makanmu. =D

Thursday, January 10, 2008

Review Iklan 1

”Tanggap Flu Burung”
Reviewer : Susilo Hadi



Produk : Kampanye Tanggap Flu Burung
Client : Komnas FBPI, yang didukung oleh UNICEF, dan pemerintah Jepang
Placement : Koran Kompas 21 Desember 2007 dalam halaman suplemen Yogyakarta
Pesan : Tanggap Flu Burung
------------------------

Tangan kita pencegah flu burung

Empat langkah mencegah flu burung :
1. Jangan sentuh unggas yang sakit atau mati.
2. Cuci pakai sabun tangan dan peralatan masak anda.
3. Pisahkan unggas dari manusia.
4. Periksakan diri ke puskesmas jika ada gejala demam setelah
berdekatan dengan unggas.



Iklan ini ditujukan bagi keluarga yang memelihara unggas, seperti ayam, bebek, itik, angsa, ataupun burung. Dengan kategori geografis kota, pinggiran kota dan pedesaaan. Melalui iklan ini sangat jelas terbaca maksud dan tujuannya karena jenis kalimat dari penggunaan kata disesuaikan dengan target yang memiliki anggapan kontak manusia dengan unggas merupakan hal sepele yang tidak perlu dipikir secara mendalam sehingga disampaikan secara sederhana. “Tanggap Flu Burung “ menggunakan kesadaran audience Indonesia akan pepatah popular “Lebih baik mencegah daripada mengobati“ sebab kata “Tanggap” pada pesan iklan berkesan memberikan edukasi mengenai tindakan inisiatif yang harus dilakukan sebagai respon terhadap wabah flu burung. Terjadi pada bagian kelompok masyarakat tertentu sehingga bagian kelompok masyarakat lain harus mengambil tindakan sebelum kejadian yang sama menimpanya.

Isu
Bagi penduduk Indonesia memelihara unggas merupakan kegemaran, kegiatan tersebut dapat berupa memelihara hewan ternak sebagai hobi, ataupun kegiatan sambilan yang menguntungkan karena menghasilkan daging dan telur yang dapat dikonsumsi. Khususnya daerah Yogyakarta unggas merupakan binatang yang sangat wajar bila berinteraksi dengan manusia.
Bagi penduduk Yogyakarta pada tingkat usia enam puluh tahun keatas dengan kategori geografis pedesaaan beranggapan bahwa tidak lengkap rasanya apabila sebuah keluarga tidak memelihara unggas, khususnya ayam. Psikografi penduduk Yogyakarta sangat menghormati perkataan orang tua sehingga pemahaman tersebut erus terpelihara dan diwujudkan. Faktor lain dalam lingkup geografis pedesaaan yang mendukung hubungan interaksi keluarga dengan unggas adalah karakter penduduknya yang merasa segan untuk membuang makanan dengan percuma, sehingga memelihara unggas bertujuan untuk menghabiskan makanan yang tersisa. Sedangkan pada kategori geografis pinggiran kota, pemukiman padat memelihara unggas merupakan hobi yang menyenangkan, trend-nya berupa memelihara burung dalam sangkar.
Penyakit flu burung yang mewabah, disebabkan oleh hubungan manusia yang terlalu dekat dengan unggas. Dari hubungan tersebut timbul sikap bersahabat yang membuat masyarakat, khususnya Jogja tetap beranggapan bahwa unggas peliharaan mereka tidak akan mengancam keselamatan jiwa meski telah terjadi kasus-kasus kematian akibat penyakit Flu Burung yang menjangkit melalui unggas peliharaan. Terlebih wabah Flu Burung belum pernah terjadi sebelumnya.
Berkaitan dengan isu, berarti saat ini belum ada kesadaran masyarakat bahwa sebenarnya mereka sangat berperan dalam fenomena penyebaran penyakit Flu Burung. Maka pesan “Tangan kita pencegah flu burung” difungsikan untuk membangun kedekatan antara masyarakat dengan wabah Flu Burung sekaligus menjadi tanda prilaku yang harus dilakukan oleh audience ( call for action ). Pada kelanjutan pesan dinyatakan “4 langkah mencegah Flu Burung”.

Pesan tersebut disampaikan dengan penyesuaian terhadap psikografi penduduk Jogja, bilamana pesan berupa tindakan tidak lagi memelihara unggas maka akan bertentangan dengan karakter mereka dan tujuan kampanye kesehatan tidak akan terwujud. Sehingga call for action berupa perilaku sehat dalam memelihara unggas.

Ide
Kampanye ini bertujuan untuk mendidik sebanyak-banyaknya audience, sehingga berprioritas pada pengambilan perhatian audience Koran Kompas. Dari kebutuhan tersebut maka iklan Tanggap Flu Burung memerlukan stoping power yang tinggi, dan hal tersebut dilakukan dengan melakukan penempatan visual iklan pada kolom iklan baris yang biasanya hanya berupa tulisan.
Ide penempatan ini didukung dengan pengemasan visual berupa tanda stop yang digunakan polisi lalu lintas ( menghadapkan telapak tangan pada orang lain ) yang diplesetkan menjadi telapak tangan dengan empat jari dirapatkan dan jempol terlipat yang juga berfungsi memperkuat pesan “4 langkah mencegah Flu Burung”. Desain visual tangan yang bergaris merah turut mendukung upaya menarik perhatian , terlebih iklan ini menggunakan space iklan kolom dalam jumlah banyak yang kemudian digabungkan menjadi satu.

Kesimpulan
Iklan kampanye mencegah flu burung ini dikemas sangat sesuai dengan karakter targetnya, baik dalam pesan yang tertulis pada copywriting-nya maupun secara visual. Namun dalam iklan ini tidak terlihat adanya upaya untuk membangun keingintahuan audience tentang flu burung itu sendiri, padahal hal tersebut termasuk kebutuhan, dan akan lebih mengedukasi mereka untuk dengan sadar melakukan pencegahan persebaran penyakit Flu Burung.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More